Blogaholic Designs

Pages

Sunday, 24 November 2013

"Sahabat Akhir Hayat"

Aku Rani, remaja usia 16 tahun yang sangat hiperaktif dan ceria. Aku mempunyai sahabat bernama Rio. Rio sahabatku sejak masa kecil, mungkin sejak kami belum lahir. Karena orangtua kami juga bersahabat sejak kecil. Bahkan aku dan Rio di lahirkan pada tanggal, hari, jam , menit, dan detik yang sama. 11 November tepatnya.
Tidak seperti biasanya Rio bercerita kepadaku tentang cinta. Biasanya Rio selalu bercerita tentang teman-teman yang suka menjahili Rio, tapi kali ini bukan. Aku rasa Rio sedang jatuh cinta.
“Ran, lu suka laki-laki yang seperti apa?” “hm… Genius! Asyik, pokoknya dia bisa buat hidup gua bahagia. Kenapa?” “menurut lo gua seperti apa?” “lo?” jawabku dengan senyum sedikit meledek. “iya. Kenapa emang?” jawab Rio datar. “lo itu… baik, seru, asyik, idiot. Hahaha” candaku yang membuat Rio sedikit tertawa. “haha sial! Ayo dong Ran, serius untuk kali ini.” “lo kenapa sih? lagi suka sama orang ya? Siapa siapa? Wah! Masa iya gua gak tau sih! kasih tau kagak?!” “iya Raaaan. Gua lagi suka sama seseorang. Dia smart, cantik, baik, anggun pula. Tapi gua ragu kalau untuk nyatain perasaan ke dia. Habisnya setiap orang yang nyatain perasaan ke dia di tolak.” “berarti dia belum nemuin orang yang pas Ri. Siapa tau lo!” “ah serius lo? Eh, tapi kalau misalnya gua jadian sama cewek itu, lo sama siapa ya.. haha” “apasih lo?! Siapa ceweknya Riiii!” “rahasia! Hahaha nanti juga lo tau sendiri kok.” Rio mengacak-acak rambutku dengan penuh kegembiraan.
Bintang bertaburan di langit malam, ku tatapi dengan penuh perasaan yang tidak menentu. Entah kenapa dengan diriku hari ini. “Apa yang terjadi denganku?” Ku ingat kejadian-kejadian hari ini. Ku kira tidak ada yang membuat ku bersedih. Tunggu! “Rio. Iya Rio. Apa  karena cerita Rio tadi siang? Aku cemburu? Tidak mungkin!” aku terus berkata-kata dalam hatiku. “Raniiiiiiiiii” terdengar suara teriakan dari luar kamarku dengan menggedor pintu sangat keras. Suara yang tak asing bagiku. “masuk aja Ri!”. Rio memelukku dengan penuh kegembiraan. “aish! Apa-apaan sih lo! Pelukan dalem kamar lagi disangka orang yang engga-engga nanti.” “biarin aja. Semua orang tau kok kita sahabatan dari kecil. Haha” “norak loh! Ada apasih?” tanyaku dengan wajah datar kepada Rio. “gua tadi ketemuan sama cewek yang gua ceritain tadi siang Ran!” “hah?” “Ran, lo tau gak betapa senangnya gua saat gua tau ternyata dia suka sama gua dari lama! Makanya dia nolak semua cowok yang nyatain perasaannya! Ternyata dia nunggu gua Ran!” aku terdiam kaget mendengar apa yang di ucapkan Rio, Rio mengguncangkan tubuhku dengan tangannya di pundakku. “Ran?! Gimana menurut lo kalau gua nyatain perasaan gua ke dia?” “what?! Jangan terlalu cepat Ri. Lihat dulu sifat dia. Yaaa kayak lo udah tau sifat gua.” “kelamaan dong Ran. Kalau dia nanti jadi milik oranglain gimana?” “lo gimana sih! katanya dia nolakin semua cowok yang nembak dia, masa iya sekarang dia mau ninggalin lo, setelah nyatain perasaannya ke lo! Idiot dasar!” “tapi kan bisa aja Ran. Kan manusia juga punya batas kesabaran.” “yaa, kalau misalnya dia ninggalin lo berarti dia engga setia dong sama lo.” “ah! Lo ngomong apasih?! Lupain deh. Lo gak asyik di mintain solusi kali ini.” “padahalsih gua udah ngasih solusi yang terbaik. Terserah lo deh.” “Ran! PS yuk!” “ayok! Kalau lo kalah, lo harus turutin solusi dari gua ya!” “hm.. sip deh! Tapi kalau gua yang menang. Lo harus janji lo gak boleh ganggu hubungan gua sama cewek yang gua suka.” “oke! Kapan sih gua pernah kalah dari lo! Hahaha” aku dan Rio sangat asyik bermain. Sampai makan malam pun kami lewat. Skor ku masih unggul di banding Rio 5-3. Entah kenapa Rio cepat sekali menyusul skor ku kali ini. Skor telah berbanding terbalik 5-8. Rio unggul 3 skor dari ku. dan akhirnya, aku kalah dalam permainan. Itu tandanya, aku tidak boleh mengganggu hubungan antara Rio dan perempuan itu. Aku langsung mengusir Rio dari kamarku. “sana pergi! gua ngantuk. udah jam 1 pagi. kamu gak akan pulang?” “hahaha kamu kalaaah! Rumah aku sebelahan sama kamu Ran, tinggal jalan 1 langkah aja kok. Hahaha ingat yah perjanjian kita!” “IYA! GUA INGET BANGET RIO!” aku mendorong Rio untuk keluar kamarku.
Ku lihat Rio dari jendela kamarku, dia tertawa puas melihatku yang berdiri menatapnya di balik setengah gorden. Aku terus memikirkan ucapan Rio. Tapi aku yakini dalam hatiku bahwa perempuan itu adalah yang terbaik untuk Rio sahabatku.
Keesokan harinya disekolah, aku melihat dari kejauhan Rio berjalan dengan seorang perempuan tinggi dengan rambut terkuncir di belakang. Mungkin itu perempuan yang selalu di katakan Rio kepadaku. Tadinya aku ingin menghampiri mereka, tapi perjanjian ku dengan Rio selalu terngiang di kupingku yang kecil ini. Sudahlah, mungkin Rio sangat nyaman dengan dirinya sekarang.
Hari-hari ku di sekolah hari ini sangatlah sepi. Biasanya Rio selalu mengajaku ke kantin ketika istirahat tapi ini tidak. bahkan saat di kelaspun Rio tidak sama sekali mengajakku bicara. Padahal dia teman sebangku ku. aku lihat Rio tengah duduk berdua dengan perempuan itu di kantin, aku belum tahu siapa perempuan itu. Tidak terlihat dari posisi ku saat ini. Aku pergi ke kelas karena bel masuk telah berbunyi.
“RI..” “iya? Apa Ran?” “lo kenapa sih? gua punya salah sama lo?” “hah? salah apa?”. “habis dari tadi pagi lo nyuekin gua terus. Berangkat sekolah juga lo ninggalin gua, bahkan istirahat aja lo gak ngajak gua ke kantin kayak biasanya.” “ya ampun Ran, lo kayak anak kecil banget sih, masa iya gua harus nemenin terus. Lo kan udah besar Ran.” “iya emang gua udah besar. Tapi lo gak kayak biasanya! Lo ngeselin. Lo berubah sejak lo kenal sama perempuan itu. Jangan-jangan lo udah jadian!”. “hehehe santai dong Ran, belum sih, belum jadian. Tapi rencananya nanti sore gua mau nembak dia.” “hm?!!!” aku terkejut dengan apa yang di katakan oleh Rio. Secepat itukah Rio?.
Sudah beberapa bulan belakangan ini aku tidak berhubungan dengan Rio, aku juga jarang masuk sekolah karena aku sakit. Semakin hari sakitku semakin parah. Tapi Rio tidak juga menjengukku. Menanyakan kabarku saja tidak. padahal rumah ku dengannya bersebelahan. Mungkin Rio sudah bahagia dengan perempuan itu. Mungkin mereka juga sudah jadian. Terakhir aku mendapatkan kabar dari teman Rio, bahwa Rio baik-baik saja.
Sudah sekian lama aku tidak masuk sekolah karena sakit, aku berhenti dari sekolah itu, dan aku memutuskan untuk sekolah di rumah atau yang sering di sebut “home schooling” penyakitku semakin parah. Aku terkena penyakit Tumor yang sudah sangat parah dibagian perutku. Perutku kini  membesar sangat besar. Kondisi tubuhku sangat lemah. Tak henti-hentinya aku menangis melihat kondisiku sekarang. Tapi aku harus belajar kuat untuk semua ini. Aku berjuang atas penyakitku, aku terus lakukan pengobatan, dari yang tradisional hingga modern. Tapi keadaanku belum juga membaik. Di tengah-tengah kerapuhanku, Ibu dan Ayah bertengkar. Bahkan mereka pernah bertengkar di depanku dan memutuskan untuk cerai. Tapi aku bantah dan mereka meminta maaf kepadaku karena sikap mereka yang tidak memperdulikan keadaanku. Coba saja bayangkan di ujung perihku ini aku sendiri. Sahabat menghilang. Bahkan Ayah dan Ibu akan bercerai. Aku sungguh sangat setres dengan keadaanku ini. Aku berharap agar malaikat menjemputku secepat mungkin, agar aku bisa bahagia, agar aku tidak melihat kehidupan seperti ini. Hanya ada dua harapan yang aku ingin sekarang. Kembali normal seperti dahulu dan mati bahagia. Hanya itu. Sesekali aku bercerita kepada Tuhan lewat kertas mungilku.
                                                                                                     
Tuhan Aku Ingin Bahagia…
Tuhan,izinkan aku bahagia sekali lagi.
Aku ingin melihat sahabatku yang dulu kini ada di sampingku.
Aku ingin orangtua ku memelukku sekali lagi. Aku ingin itu Tuhan.
Tapi sangat sulit untuk aku katakan hal itu kali ini.
Aku mohon Tuhan Ambilah nyawaku saat aku bahagia lahir dan batin.
Aku mohon Tuhan. Izinkan aku bertahan sebentar lagi, walaupun aku sesungguhnya rindu akan pelukan-Mu.
Aku ingin melihat kedua orangtua ku dan Rio bahagia. Sekali lagi saja Tuhan. Aku mohon. Aku menyayangi mereka. Aku juga menyangi-Mu.

Rani


***
“Raaaann!! Kenapa lo gak bilang lo sakit? Kenapa lo gak pernah ngabarin gua! Ran, gua khawatir banget sama lo!” Rio meneteskan butiran krystal dari matanya, dan sungguh aku ingin memeluknya dan berkata ‘aku juga mengkhawatirkanmu’ tapi sangat sulit untuk ku bicara, nafasku sesak. Akhirnya aku menyerahkan semua tulisanku yang ada di dalam buku diary kepada Rio. “maksud lo apa sih Ran?! Ran asal lo tau yah, gua baru sadar gua sayang sama lo. Bukan cewek itu. Calista namanya. Gak ada feel untuk dia Ran, tapi di deket lo, perasaan gua selalu seneng. Sempet gua jadian sama dia, dan gua baru aja putus. Gua putusin dia karena alesan gua, gua sayang sama lo. Gua gak mau ninggalin lo selama ini. Kata lo waktu itu bener Ran, harusnya gua kenal lebih lama dulu sama dia. Dia selalu ngelarang gua untuk ketemu sama lo Ran, tapi gua gak tahan. Gua kangen sama lo Ran. Lo mau kan sembuh demi gua? Dan lo mau kan jadi pacar gua?” “m…aaffhh” aku hanya bisa mengatakan itu kepada Rio, dan mataku terus mengalirkan air yang sangat deras. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan seketika aku tidak merasakan apapun. Ku kira sekarang aku sudah tenang.
***
*Rio

Sampai kapanpun aku bakal tetap sayang kamu Ran! Maafin aku yang udah selalu nyakitin kamu. Seandainya kita bisa bersama-sama terus hingga menikah, mungkin anak kita akan menjadi anak yang lebih beruntung dari pada anak-anak yang lainnya. Tapi takdir berkata lain. Mungkin Tuhan sangat kesal kepadaku, hingga akhirnya Tuhan mengambil mu kembali. Bahagia selalu disana Ran.”