Aku Rani, remaja usia 16
tahun yang sangat hiperaktif dan ceria. Aku mempunyai sahabat bernama Rio. Rio
sahabatku sejak masa kecil, mungkin sejak kami belum lahir. Karena orangtua
kami juga bersahabat sejak kecil. Bahkan aku dan Rio di lahirkan pada tanggal,
hari, jam , menit, dan detik yang sama. 11 November tepatnya.
Tidak seperti biasanya Rio
bercerita kepadaku tentang cinta. Biasanya Rio selalu bercerita tentang
teman-teman yang suka menjahili Rio, tapi kali ini bukan. Aku rasa Rio sedang
jatuh cinta.
“Ran, lu suka laki-laki yang
seperti apa?” “hm… Genius! Asyik, pokoknya dia bisa buat hidup gua bahagia.
Kenapa?” “menurut lo gua seperti apa?” “lo?” jawabku dengan senyum sedikit meledek.
“iya. Kenapa emang?” jawab Rio datar. “lo itu… baik, seru, asyik, idiot.
Hahaha” candaku yang membuat Rio sedikit tertawa. “haha sial! Ayo dong Ran,
serius untuk kali ini.” “lo kenapa sih? lagi suka sama orang ya? Siapa siapa?
Wah! Masa iya gua gak tau sih! kasih tau kagak?!” “iya Raaaan. Gua lagi suka
sama seseorang. Dia smart, cantik, baik, anggun pula. Tapi gua ragu kalau untuk
nyatain perasaan ke dia. Habisnya setiap orang yang nyatain perasaan ke dia di
tolak.” “berarti dia belum nemuin orang yang pas Ri. Siapa tau lo!” “ah serius
lo? Eh, tapi kalau misalnya gua jadian sama cewek itu, lo sama siapa ya.. haha”
“apasih lo?! Siapa ceweknya Riiii!” “rahasia! Hahaha nanti juga lo tau sendiri
kok.” Rio mengacak-acak rambutku dengan penuh kegembiraan.
Bintang bertaburan di langit
malam, ku tatapi dengan penuh perasaan yang tidak menentu. Entah kenapa dengan
diriku hari ini. “Apa yang terjadi denganku?” Ku ingat kejadian-kejadian hari
ini. Ku kira tidak ada yang membuat ku bersedih. Tunggu! “Rio. Iya Rio. Apa karena cerita Rio tadi siang? Aku cemburu?
Tidak mungkin!” aku terus berkata-kata dalam hatiku. “Raniiiiiiiiii” terdengar
suara teriakan dari luar kamarku dengan menggedor pintu sangat keras. Suara
yang tak asing bagiku. “masuk aja Ri!”. Rio memelukku dengan penuh kegembiraan.
“aish! Apa-apaan sih lo! Pelukan dalem kamar lagi disangka orang yang
engga-engga nanti.” “biarin aja. Semua orang tau kok kita sahabatan dari kecil.
Haha” “norak loh! Ada apasih?” tanyaku dengan wajah datar kepada Rio. “gua tadi
ketemuan sama cewek yang gua ceritain tadi siang Ran!” “hah?” “Ran, lo tau gak
betapa senangnya gua saat gua tau ternyata dia suka sama gua dari lama! Makanya
dia nolak semua cowok yang nyatain perasaannya! Ternyata dia nunggu gua Ran!”
aku terdiam kaget mendengar apa yang di ucapkan Rio, Rio mengguncangkan tubuhku
dengan tangannya di pundakku. “Ran?! Gimana menurut lo kalau gua nyatain
perasaan gua ke dia?” “what?! Jangan terlalu cepat Ri. Lihat dulu sifat dia.
Yaaa kayak lo udah tau sifat gua.” “kelamaan dong Ran. Kalau dia nanti jadi
milik oranglain gimana?” “lo gimana sih! katanya dia nolakin semua cowok yang
nembak dia, masa iya sekarang dia mau ninggalin lo, setelah nyatain perasaannya
ke lo! Idiot dasar!” “tapi kan bisa aja Ran. Kan manusia juga punya batas
kesabaran.” “yaa, kalau misalnya dia ninggalin lo berarti dia engga setia dong
sama lo.” “ah! Lo ngomong apasih?! Lupain deh. Lo gak asyik di mintain solusi
kali ini.” “padahalsih gua udah ngasih solusi yang terbaik. Terserah lo deh.”
“Ran! PS yuk!” “ayok! Kalau lo kalah, lo harus turutin solusi dari gua ya!”
“hm.. sip deh! Tapi kalau gua yang menang. Lo harus janji lo gak boleh ganggu
hubungan gua sama cewek yang gua suka.” “oke! Kapan sih gua pernah kalah dari
lo! Hahaha” aku dan Rio sangat asyik bermain. Sampai makan malam pun kami
lewat. Skor ku masih unggul di banding Rio 5-3. Entah kenapa Rio cepat sekali
menyusul skor ku kali ini. Skor telah berbanding terbalik 5-8. Rio unggul 3
skor dari ku. dan akhirnya, aku kalah dalam permainan. Itu tandanya, aku tidak
boleh mengganggu hubungan antara Rio dan perempuan itu. Aku langsung mengusir
Rio dari kamarku. “sana pergi! gua ngantuk. udah jam 1 pagi. kamu gak akan
pulang?” “hahaha kamu kalaaah! Rumah aku sebelahan sama kamu Ran, tinggal jalan
1 langkah aja kok. Hahaha ingat yah perjanjian kita!” “IYA! GUA INGET BANGET
RIO!” aku mendorong Rio untuk keluar kamarku.
Ku lihat Rio dari jendela
kamarku, dia tertawa puas melihatku yang berdiri menatapnya di balik setengah
gorden. Aku terus memikirkan ucapan Rio. Tapi aku yakini dalam hatiku bahwa
perempuan itu adalah yang terbaik untuk Rio sahabatku.
Keesokan harinya disekolah,
aku melihat dari kejauhan Rio berjalan dengan seorang perempuan tinggi dengan
rambut terkuncir di belakang. Mungkin itu perempuan yang selalu di katakan Rio
kepadaku. Tadinya aku ingin menghampiri mereka, tapi perjanjian ku dengan Rio
selalu terngiang di kupingku yang kecil ini. Sudahlah, mungkin Rio sangat
nyaman dengan dirinya sekarang.
Hari-hari ku di sekolah hari
ini sangatlah sepi. Biasanya Rio selalu mengajaku ke kantin ketika istirahat
tapi ini tidak. bahkan saat di kelaspun Rio tidak sama sekali mengajakku
bicara. Padahal dia teman sebangku ku. aku lihat Rio tengah duduk berdua dengan
perempuan itu di kantin, aku belum tahu siapa perempuan itu. Tidak terlihat dari
posisi ku saat ini. Aku pergi ke kelas karena bel masuk telah berbunyi.
“RI..” “iya? Apa Ran?” “lo
kenapa sih? gua punya salah sama lo?” “hah? salah apa?”. “habis dari tadi pagi
lo nyuekin gua terus. Berangkat sekolah juga lo ninggalin gua, bahkan istirahat
aja lo gak ngajak gua ke kantin kayak biasanya.” “ya ampun Ran, lo kayak anak
kecil banget sih, masa iya gua harus nemenin terus. Lo kan udah besar Ran.”
“iya emang gua udah besar. Tapi lo gak kayak biasanya! Lo ngeselin. Lo berubah
sejak lo kenal sama perempuan itu. Jangan-jangan lo udah jadian!”. “hehehe
santai dong Ran, belum sih, belum jadian. Tapi rencananya nanti sore gua mau
nembak dia.” “hm?!!!” aku terkejut dengan apa yang di katakan oleh Rio. Secepat
itukah Rio?.
Sudah beberapa bulan belakangan
ini aku tidak berhubungan dengan Rio, aku juga jarang masuk sekolah karena aku
sakit. Semakin hari sakitku semakin parah. Tapi Rio tidak juga menjengukku.
Menanyakan kabarku saja tidak. padahal rumah ku dengannya bersebelahan. Mungkin
Rio sudah bahagia dengan perempuan itu. Mungkin mereka juga sudah jadian.
Terakhir aku mendapatkan kabar dari teman Rio, bahwa Rio baik-baik saja.
Sudah sekian lama aku tidak
masuk sekolah karena sakit, aku berhenti dari sekolah itu, dan aku memutuskan
untuk sekolah di rumah atau yang sering di sebut “home schooling” penyakitku
semakin parah. Aku terkena penyakit Tumor yang sudah sangat parah dibagian
perutku. Perutku kini membesar sangat
besar. Kondisi tubuhku sangat lemah. Tak henti-hentinya aku menangis melihat
kondisiku sekarang. Tapi aku harus belajar kuat untuk semua ini. Aku berjuang
atas penyakitku, aku terus lakukan pengobatan, dari yang tradisional hingga
modern. Tapi keadaanku belum juga membaik. Di tengah-tengah kerapuhanku, Ibu
dan Ayah bertengkar. Bahkan mereka pernah bertengkar di depanku dan memutuskan
untuk cerai. Tapi aku bantah dan mereka meminta maaf kepadaku karena sikap
mereka yang tidak memperdulikan keadaanku. Coba saja bayangkan di ujung perihku
ini aku sendiri. Sahabat menghilang. Bahkan Ayah dan Ibu akan bercerai. Aku
sungguh sangat setres dengan keadaanku ini. Aku berharap agar malaikat menjemputku
secepat mungkin, agar aku bisa bahagia, agar aku tidak melihat kehidupan
seperti ini. Hanya ada dua harapan yang aku ingin sekarang. Kembali normal
seperti dahulu dan mati bahagia. Hanya itu. Sesekali aku bercerita kepada Tuhan
lewat kertas mungilku.
Tuhan
Aku Ingin Bahagia…
Tuhan,izinkan
aku bahagia sekali lagi.
Aku
ingin melihat sahabatku yang dulu kini ada di sampingku.
Aku
ingin orangtua ku memelukku sekali lagi. Aku ingin itu Tuhan.
Tapi
sangat sulit untuk aku katakan hal itu kali ini.
Aku
mohon Tuhan Ambilah nyawaku saat aku bahagia lahir dan batin.
Aku
mohon Tuhan. Izinkan aku bertahan sebentar lagi, walaupun aku sesungguhnya
rindu akan pelukan-Mu.
Aku
ingin melihat kedua orangtua ku dan Rio bahagia. Sekali lagi saja Tuhan. Aku
mohon. Aku menyayangi mereka. Aku juga menyangi-Mu.
Rani
***
“Raaaann!! Kenapa lo gak
bilang lo sakit? Kenapa lo gak pernah ngabarin gua! Ran, gua khawatir banget
sama lo!” Rio meneteskan butiran krystal dari matanya, dan sungguh aku ingin
memeluknya dan berkata ‘aku juga mengkhawatirkanmu’ tapi sangat sulit untuk ku
bicara, nafasku sesak. Akhirnya aku menyerahkan semua tulisanku yang ada di
dalam buku diary kepada Rio. “maksud lo apa sih Ran?! Ran asal lo tau yah, gua
baru sadar gua sayang sama lo. Bukan cewek itu. Calista namanya. Gak ada feel
untuk dia Ran, tapi di deket lo, perasaan gua selalu seneng. Sempet gua jadian
sama dia, dan gua baru aja putus. Gua putusin dia karena alesan gua, gua sayang
sama lo. Gua gak mau ninggalin lo selama ini. Kata lo waktu itu bener Ran,
harusnya gua kenal lebih lama dulu sama dia. Dia selalu ngelarang gua untuk
ketemu sama lo Ran, tapi gua gak tahan. Gua kangen sama lo Ran. Lo mau kan
sembuh demi gua? Dan lo mau kan jadi pacar gua?” “m…aaffhh” aku hanya bisa mengatakan
itu kepada Rio, dan mataku terus mengalirkan air yang sangat deras. Aku mengucapkan
dua kalimat syahadat dan seketika aku tidak merasakan apapun. Ku kira sekarang
aku sudah tenang.
***
*Rio
“Sampai
kapanpun aku bakal tetap sayang kamu Ran! Maafin aku yang udah selalu nyakitin kamu.
Seandainya kita bisa bersama-sama terus hingga menikah, mungkin anak kita akan
menjadi anak yang lebih beruntung dari pada anak-anak yang lainnya. Tapi takdir
berkata lain. Mungkin Tuhan sangat kesal kepadaku, hingga akhirnya Tuhan
mengambil mu kembali. Bahagia selalu disana Ran.”





