“Ra,
bangun woy!!” ya! Seperti biasanya di hari libur Ratna selalu datang menjemput
ku pukul 6 tepat. Ratna terus berusaha membangunkan ku dari mimpi. “apasih
Na..” jawab ku lesu “goes goes yuk!” ajak Ratna yang bermaksud bersepeda. Aku tidak memperdulikan ucapan Ratna sama
sekali. “Reska udah nunggu di depan tuh! Gak kasian apa?” mata ku membulat
tepat di hadapan wajah Ratna “serius lo?!”
Reska
laki-laki yang Aku sukai, Ia berparas indah dan mempunyai wajah yang tenang. Segera
ku lepaskan selimut yang menutupi bagian tubuhku dan Aku bergegas lari ke teras
kamar ku. Yak! Benar kata Ratna. Reska sedang menunggu di depan rumah ku sambil
menunggangi sepeda nya. “mau berangkat atau mandangin Dia dari atas aja?” goda
Ratna. “berangkaaaaaat!” jawab ku penuh semangat.
***
Setelah
asyik bersepeda kami berhenti di sebuah taman yang biasa aku dan Ratna
kunjungi. Reska membelikan kami satu botol masing-masing cairan mineral. Ratna
meninggalkan kami di taman. Entah itu sengaja atau tidak Aku benar-benar tidak
tahu. “Dyandra?” “hm? Apa?” jawab ku gugup. “sebentar lagi kan kamu keluar dari
SMA, setelah lulus nanti kamu mau masuk perguruan tinggi mana?” Tanya Reska
yang kedengaran nya serius. “belum tahu.” Jawab ku singkat. “oh begitu. Eh pulang
yuk!” ajak Reska sambil berjalan dengan sepedanya. Aku mengikuti Reska berjalan
di belakangnya hingga sekarang berada di sampingnya. “Dy, kenapa? Kok dari tadi
aku perhatiin kamu diem terus sih. Ada masalah? Mau cerita?” tawar Reska
melihat keadaan ku. Entah mengapa sejak Reska menanyakan tentang perguruan
tinggi tadi aku selalu berfikir, apa aku bisa bertemu Dia lagi? Kenapa Reska
tidak mengajak ku ke universitas yang sama dengan nya?. “Dy?” Reska melambaikan
ke lima jari tangan kanan nya di hadapan wajah ku. “ah, iya? Tidak tidak” jawab
ku asal. “kamu kenapa sih Dy?”. “udah sampai kan? Aku duluan ya Res” rumah kami
yang tidak berjauhan membuat aku selalu melihat ke arah rumah nya untuk
memastikan dia ada di dalam kamarnya. Rumah kami berseberangan, jendela kamar
Reska begitu pas bersebrangan dengan jendela kamar ku. Aku bergegas
membersihkan diri dari keringat-keringat yang telah menghujani seluruh tubuh
ku.
***
Keesokan
hari nya, saat Aku berada di teras bawah rumah ku, Aku melihat Reska sudah siap
pergi berolah raga pagi dengan sepeda nya. “mau berangkat ya?” Tanya Reska dari
seberang rumah nya. “iya” jawab ku sedikit dengan senyum di pagi ini. “semangat
ya!” Reska memberi senyum lebar dari bibirnya.
“Dyandra!!!”
terdengar suara yang sudah tak asing lagi bagiku. *pukk* Ratna menepuk pundak
ku dengan semangat. “apasih Na? sakit tahu!” jawabku ketus. “hehe maaf ya. Eh
eh gimana kemarin sama Reska?” “apa? Gimana apanya?” “kalian ngobrolin apa
aja?” Tanya Ratna penasaran. “gak gimana-gimana, Dia Cuma nanyain gua mau masuk
universitas mana?.” “terus lo jawab apa?” “ya, gua jawab gak tahu. Lagian emang
gua masih bingung kok.” “udah? Cuma
begitu aja?” “iyalah! Mau gimana lagi coba?” “eh iya dy, denger-denger Reska
lagi deket sama cewek di sekolah ini.” “siapa? Gua? Hahaha” candaku pada Ratna.
“bukan! Katanya sih Feby” “oh, gak kenal. Biarin ajadeh” jawab ku cuek “lo gak
cemburu?” Ratna mengehentikan perjalanan ku. “emang Reska siapa gua sih? Buat
apa juga gua cemburu” “iya juga sih. Tapi kan..” “minggir!” aku mendobrak
tangan Ratna yang sempat menghentikan perjalanan ku menuju ke ruang kelas.
*teeeeenggg..
teeeengggg..* bunyi bel pulang sekolah berbunyi menandakan Aku harus segera
pulang sebelum Aku bertemu dengan orang-orang aneh yang suka menjegat dan
meminta uang kepada semua anak di sekolah ku. Baru Aku akan melewati pintu
gerbang sekolah ku, Aku melihat Reska sedang berdiri di samping mobil mewah
berwarna hitam, berplat nomor kota Metropolitan. Iya itu mobil kesayangan Reska
yang selalu ada di bagasi rumah nya. Dia melambaikan tangannya ke arah ku. ah
tidak! Bukan kepadaku. Tapi, Perempuan berambut pirang panjang yang di ikat
sedikit di bagian belakang kepalanya, aku rasa itu Feby yang di bicarakan Ratna
tadi pagi. Mereka telah berlalu dari hadapan ku. Akupun segera pulang tanpa
Ratna.
***
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab Ayah menghampiriku. “mau kemana, Yah?” Tanyaku penasaran
sambil mencium tangannya. “Ayah mau ke luar kota 3 hari sama Mama”. “loh? Kok
mendadak? Ada urusan apa?” “kerabat dekat mamah yang tinggal di palembang mau
pergi haji, Ayah gak mungkin pulang-pergi, karena jauh banget.” “terus? Aku
sendirian di rumah?” jawab ku agak sedikit kesal kepada Ayah. “suruh Ratna
menginap di sini sampai Ayah pulang.” “gak bisa begitu, yah. Rumah Ratna gak
berdekatan sama rumah kita!” “Ayah udah bilang sama Reska, untuk menemani kamu
beberapa hari ini, biar kamu gak kesepian. Waktu Ayah keluar kota dulu juga Reska
kan yang menemani kamu. Lagipula Reska itu sudah Ayah anggap seperti keluarga
kok.” Aku meninggalkan Ayah masuk ke dalam kamar ku. Tidak seperti biasanya aku
merasa tidak ingin di temani oleh Reska saat ini. Kenapa aku? Ada apa dengan ku
saat ini? Aku selalu bertanya-tanya. Apa karena kejadian tadi di sekolah ya?
Aku cemburu? Iya, itu hal yang wajar sih. Aku kan suka sama Reska.
***
Selama
beberapa hari ini Reska selalu mengantar-jemput ku sekolah. Bukan Aku yang mau,
tapi Reska selalu menawari ku berangkat bersamannya. Walaupun seringkali Aku
bilang, Aku bisa berangkat sendiri. Tapi, Reska tetap saja memaksaku untuk
pergi bersamanya.
Tiga
hari setelah kepergian Ayah dan Mamah ke Palembang, seperti biasanya Reska
mengantar-jemput ku sekolah. Tidak biasanya Reska menaruh mobilnya di seberang
jalan sekolah yang lumayan agak jauh dari jarak pintu gerbang. Aku tak melihat
Reska ada di depan mobil, yang biasanya Ia selalu menunggu ku di samping mobil
kesayangannya itu. “Mungkin Reska ketiduran dalam mobil kali yah” fikir ku
positif. Aku menyeberangi jalan dengan sangat hati-hati dan setelah Aku sampai
ke ujung jalan tiba-tiba saja ada yang menarik tangan ku ke arah jalan raya.
***
Ku
buka mata ku perlahan karena sedikit agak pusing, dan aku sekarang melihat Reska
berada di sampingku. “Alhamdulillah” ucap Reska sambil menatap ku dengan penuh
ketenangan. “aku kenapa Res?” Tanya ku bingung. “kamu tadi kecelakaan, maaf Aku
tadi lagi beli minum sebentar. Makanya Aku gak nunggu kamu di samping mobil
seperti biasanya” wajah Reska sekarang berganti menjadi wajah penyesalan. “ah
yasudah, Aku gak apa-apa kok” Aku berusaha menenangkan Reska yang mungkin
sangat khawatir dengan keadaanku. Ada sedikit keganjalan yang aku rasakan saat
ini, aku merasa kaki ku mati rasa, ku goyangkan sedikit badanku untuk
memastikan aku tidak apa-apa. “kamu kenapa Dy?” “kaki ku mati rasa Res” tidak
seperti yang Aku bayangkan Reska tiba-tiba menangis di hadapanku dan terus
meminta maaf. Aku sedikit penasaran dengan kaki ku, Aku buka perlahan selimut
yang menutupi kaki ku, ku lihat Di sana kaki kanan ku baik-baik saja, bahkan
aku lihat kaki kiri ku pun baik-baik saja. Ada apa dengan Reska? Kenapa dia
menangis seperti itu? “Dy…” panggil Reska kepadaku dengan sedikit isakan. “iya
Res? Kenapa?” “kamu lumpuh Dy, akibat kejadian tadi. Maafin aku Dy” aku
terkejut dengan apa yang di bicarakan Reska barusan. Aku terdiam kaku, tubuhku
seketika serasa hancur remuk. Mataku membulat melihat Reska, bulu kuduk ku
meninggi tegak, sungguh aku tidak percaya dengan apa yang di katakan Reska. Aku
mencoba berdiri, berjalan, tapi apadaya. Apa yang di katakana Reska semua
benar. Aku lumpuh.
***
*2 tahun kemudian*
Aku
selalu berada di dalam kamar kesayangan ku, ketika Aku bosan Aku hanya berada
di teras kamarku. Terkadang kecelakaan 2 tahun lalu selalu terbayang di
kepalaku, pernah sampai kepalaku pusing sekali ketika mengingat kejadian dua
tahun lalu. Tapi untungnya selalu ada Reska yang setiap saat menjagaku.
“pagi Dyandra!!” “pagi
Res, habis main sepeda ya?” “iya Dy, Cuma sebentar sih habisnya Ratna masih
sibuk sama kuliahnya. Maklum anak Akuntan. Haha”
Ratna
di terima di Sekolah Tinggi Administrasi Negara, dan Aku… dari dulu aku selalu
ingin jadi atlet, dan akhirnya dengan keterbatasan ku, Aku diterima di salah
satu Universitas Jakarta. Hari ini Aku sedang libur kuliah, ada penerimaan
mahasiswa baru, dan aku tidak di izinkan ikut oleh Dokter.
“Res, aku bosan di
rumah terus.” “oh iya! Tadi Ayah kamu ngajak jalan-jalan ke Puncak! Aku di
suruh Ayah kamu bangunin kamu supaya siap-siap. Ayok Dy!” “Puncak?” jawabku
heran “Iya Puncak. Kenapa? Udah sana cepat siap-siap!.”
“dingin ya disini,
sejuk. Angin malamnya enak banget.” “kayak baru pertama kali aja kamu Dy ke
Puncak.” “aku Cuma kangen aja sama suasana di sini.” “Aku juga kangen Dy sama
suasana disini” wajah Reska tersenyum sambil tetap memegangi kursi rodaku.
“Dyandra.. Reska?!”
sahut Ayah dari kejauhan. “Dyandra, Reska mari kita makan malam bersama. Jangan
pandangi langit terus nanti ke-asyikan.” Aku dan Reska hanya tersenyum
mendengar cakap Ayah yang sedikit jahil.
Setelah
makan malam selesai Aku sedikit berbisik kepada Ayah bahwa Aku hanya ingin
bicara banyak dengannya, dan Ayah mengajakku ke halaman belakang.
“Ada apa dengan anak
Ayah ini?” Tanya Ayah sambil sedikit berjongkok di samping ku. “Ayah, kapan ya
Dy bisa lari lagi? Kapan yah Dy bisa olahraga kayak orang normal biasanya? Kok
kayaknya Dy lemah banget di banding temen-temen di Kampus Dy. Dy jalan pun gak
bisa. Dy Cuma bisa duduk di kursi roda. Dy manja banget ya Ayah?” tanpa terasa
kini air mata telah menghujani pipiku yang sedikit agak besar. “ini Dyandra
bukan ya?” “Ayah aku lagi gak bercanda” “Kamu Dyandra anak Saya?” “Ayah
apa-apaan sih! iya, ini Dyandra anak Ayah!” “kok anak Ayah cemen sekali ya? Kok
anak Ayah lemah ya? Kok anak Ayah psimis seperti ini?” aku terdiam mendengar
ucapan-ucapan yang di lontarkan Ayah. “Ayah, Dy lelah kalau harus seperti ini
terus. Ayah kan tidak merasakan seperti Dy.” “Ayah mengerti. Makanya Dy harus
rajin terapi. Jangan malas-malasan. Ngerti?” Aku mengangguk lalu Ayah membawaku
ke dalam kamar untuk beristirahat.
***
2
tahun sudah Aku menjalankan terapi dan akhirnya Aku sembuh. Aku tidak tahu ini
waktu yang sangat cepat atau tidak untuk penyakit ku ini. Aku tidak perduli! 2
tahun juga Aku tidak pernah berkomunikasi dengan Reska. Iya, saat kami pulang
dari puncak aku baru tahu ternyata Reska sudah menjalankan hubungan special
dengan Feby. Aku tidak pernah menjauh, tapi Reska yang selalu mencoba menjauh.
Biarlah, Aku sudah tidak ingin memikirkannya.
Saat
itu ada perlombaan lari yang di adakan oleh kampus ku. Aku bersiap disana.
Ayah, Mama, dan sebagian keluargaku menyemangati ku dari atas. Aku tersenyum
senang bisa seperti ini.
“1..2..3!! *duarrrrrr*”
pistol telah ditembakan kerah atas dan Aku berlari sekuat tenaga ku. *brukk*
“aahh” Aku sedikit berteriak karena ada yang menabrakku dari belakang. Aku
mencoba berdiri kembali dan aku ingin tahu siapa yang menabrakku “Feby!!!” feby
tersenyum sinis dan Aku terus berlari untuk kembali berada di posisi pertama.
Dan…. “yeaaah!!” Aku menang! Aku sangat senang bisa membuktikan bahwa Aku
adalah seorang atlet terbaik! Aku bisa! Ku peluk Orang tua ku, dan Aku lihat
dari arah yang sangat jauh, ada yang melambaikan tangan ke arahku, dan ternyata
itu Reska dan Ratna. Ahh sungguh aku merindukan mereka apalagi Ratna sahabat
dekatku. “selamat ya Dy! Akhirnya tercapai juga cita-cita lo jadi atlet!
Walaupun lu bantat! Hahaha” “aish! Baru juga ketemu lagi sudah meledek! Senang
kan sahabatnya sukses? Haha” “selamat ya Dy” Reska mengarahkan tangan kanan
nnya untuk symbol memberi selamat atas keberhasilan ku. “Terimakasih” aku
memberikan sedikit senyum simpulku kepada Ratna dan Reska. “Dyandra?” “hm?”
jawabku dengan sedikit meninggikan alis ku “I Love You, and…. Would You be my
girlfriend?” Aku terkejut dengan apa yang di katakan reska kepadaku barusan.
Aku menatap mata kedua orang tua ku dan Ratna. Mereka tidak memberikan respon
apapun. Mengagguk pun tidak. “No.” aku hanya ingin aku bersahabat dengan Reska
dan Ratna. Aku menyayangi mereka. Aku pernah menyukai Reska tapi itu dulu!
Sejak SMA.
Ku
lihat wajah satu persatu yang menjadi saksi ketika Reska menyatakan perasaannya
kepada ku. Mereka sangat heran. Mereka menyangka aku akan menerima Reska. Reska
tidak memberikan wajah Ia menyesal atau kecewa. “Aku yakin kamu sudah
memikirkan itu matang-matang Dy” Reska memberikan senyumannya kepadaku sambil
memberikan pelukan persahabatan kepadaku dan Ratna. “bahkan aku bisa selalu
memeluk kalian seperti ini haha” celetuk Reska dengan sedikit rasa jahil. Kami
tertawa bersama. Iya hari itu sungguh sangat menyenangkan bagiku. Aku tidak
kehilangan seedikitpun moment berharga di situ. Aku tidak kehilangan keluargaku
juga sahabatku. Dan Aku bisa menjadi atlet sungguhan. Bukan hanya mimpi atau
angan-angan belaka saja yang aku impikan selama ini. So, You can, if you try!