Blogaholic Designs

Pages

Tuesday, 17 September 2013

TIPS MENGAHADAPI UN 2014

Percaya deh gua kalo kalian udah pada tau tentang tips menghadapi UN. yaa gua cuma mau ingetin aja buat kalian tipsnya mengahadapi UN 2014. 

Pertama: Belajar
lo harus rubah jadwal pelajaran lo untuk mengahadapi UN. misalnya, lo biasanya belajar cuma dari jam 7-9 malam. lo harus bisa belajar jam 7-10. atau gak setelah lo pulang sekolah lo buka buku pelajaran lo lagi biar lo lebih ngerti tentang pelajaran yang lo pelajari.
Kedua: Belajar Cerdas
lo harus lebih aktif di dalam kelas sekarang. misalnya, lo lebih banyak bertanya pada guru pertanyaan yang tidak lo mengerti. jangan lo pendem sampai hati lo bulukan dengan berkata dalam hati "mau nanya tapi malu sama yang lainnya" please! lo sukses bukan karena mereka! tapi dari diri lo sendiri. cuekin aja apa kata mereka tentang keburukkan lo.
Ketiga: Hafalan
gak semuanya kan pelajaran lo itu hitungan? malah bagian pelajaran hitungan aja pasti harus ada yang lo inget. rumus! buat lo yang susah menghafal, lo harus rajin-rajin baca deh! mulai dari sekarang lo harus coba membiasakan diri membaca. baca buku yang bermanfaat buat kesuksesan lo.
Keempat: Kurangi Bermain
masa-masa umur lo sekarang lagi pengen-pengen nya puasin main sama temen kan? entah itu dengan alasan "terakhir bareng temen-temen" atau "gua gak akan bisa begini lagi di sekolah ini karena gua akan LULUS. aamiin" lo main boleh aja, tapi jangan hampir setiap hari. misalnya biasanya lo main satu hari 15jam. lo harus kurangi main lo jadi 2jam! dan itu paling maximal. kalo bisa seminggu lo main 1 hari. ingat! walaupun temen lo bilang "kita harus sukses bareng-bareng" bukan berarti lo harus gak sukses bareng-bsreng kan? lo harus bisa lebih dari mereka.
Kelima: Belajar di Luar Sekolah
gua yakin lo ngerti tips yang kelima ini. apalagi kalo bukan LES. lo harus madetin jadwal belajar lo di akhir sekolah ini. buat lo yang gak mengikuti les. lo harus banyak-banyak belajar di rumah. seperti tips yang gua saranin diatas tips kelima tadi. atau lo juga bisa belajar berkelompok sama temen-temen lo diluar jam sekolah.
Keenam: FOKUS!
ininih! penting banget buat lo semua dan gua sendiri! lo les,belajar sana-sini tapi lo gak fokus! buat apa?! buang duit aja lo pada! kalo lo mau niat jadi orang sukses lo harus belajar sungguh-sungguh lo harus fokus dengan apa yang lo jalanin untuk kesuksesan di masa depan lo!
Ketujuh: Percaya Diri
lo udah keren, udah kece, udah ok bangetlah! tapi kalo lo kagak percaya diri dengan apa yang lo udah lakuin itu kelihatannya jadi engga banget! percaya diri itu modal utama juga buat lo untuk menggapai sukses lo!
Kedelapan: Berbakti
lo jangan belajar mulu sampai suntuk, tapi kagak pernah minta doa dari orang tua lo. doa dari orang tua itu manjur bro!
Kesembilan: Beribadah!
lo berusaha sekeras mungkin tapi tanpa di iringi dengan ibadah dan doa. lo juga percuma bro! inget yah! doa itu 60% dan usaha itu 40%. jadi semua harus seimbang, okay!

Segitu aja deh saran dari gua! SUKSES buat lo yang ingin berusaha menjadi orang sukses. semoga KITA SUKSES bukan untuk diri sendiri. tapi untuk semua di sekitar kita! Aamiin O:)
Wednesday, 4 September 2013

“FRIENDSHIP”

“FRIENDSHIP”


“Ra, bangun woy!!” ya! Seperti biasanya di hari libur Ratna selalu datang menjemput ku pukul 6 tepat. Ratna terus berusaha membangunkan ku dari mimpi. “apasih Na..” jawab ku lesu “goes goes yuk!” ajak Ratna yang bermaksud bersepeda.  Aku tidak memperdulikan ucapan Ratna sama sekali. “Reska udah nunggu di depan tuh! Gak kasian apa?” mata ku membulat tepat di hadapan wajah Ratna “serius lo?!”
Reska laki-laki yang Aku sukai, Ia berparas indah dan mempunyai wajah yang tenang. Segera ku lepaskan selimut yang menutupi bagian tubuhku dan Aku bergegas lari ke teras kamar ku. Yak! Benar kata Ratna. Reska sedang menunggu di depan rumah ku sambil menunggangi sepeda nya. “mau berangkat atau mandangin Dia dari atas aja?” goda Ratna. “berangkaaaaaat!” jawab ku penuh semangat.
***
Setelah asyik bersepeda kami berhenti di sebuah taman yang biasa aku dan Ratna kunjungi. Reska membelikan kami satu botol masing-masing cairan mineral. Ratna meninggalkan kami di taman. Entah itu sengaja atau tidak Aku benar-benar tidak tahu. “Dyandra?” “hm? Apa?” jawab ku gugup. “sebentar lagi kan kamu keluar dari SMA, setelah lulus nanti kamu mau masuk perguruan tinggi mana?” Tanya Reska yang kedengaran nya serius. “belum tahu.” Jawab ku singkat. “oh begitu. Eh pulang yuk!” ajak Reska sambil berjalan dengan sepedanya. Aku mengikuti Reska berjalan di belakangnya hingga sekarang berada di sampingnya. “Dy, kenapa? Kok dari tadi aku perhatiin kamu diem terus sih. Ada masalah? Mau cerita?” tawar Reska melihat keadaan ku. Entah mengapa sejak Reska menanyakan tentang perguruan tinggi tadi aku selalu berfikir, apa aku bisa bertemu Dia lagi? Kenapa Reska tidak mengajak ku ke universitas yang sama dengan nya?. “Dy?” Reska melambaikan ke lima jari tangan kanan nya di hadapan wajah ku. “ah, iya? Tidak tidak” jawab ku asal. “kamu kenapa sih Dy?”. “udah sampai kan? Aku duluan ya Res” rumah kami yang tidak berjauhan membuat aku selalu melihat ke arah rumah nya untuk memastikan dia ada di dalam kamarnya. Rumah kami berseberangan, jendela kamar Reska begitu pas bersebrangan dengan jendela kamar ku. Aku bergegas membersihkan diri dari keringat-keringat yang telah menghujani seluruh tubuh ku.
***
Keesokan hari nya, saat Aku berada di teras bawah rumah ku, Aku melihat Reska sudah siap pergi berolah raga pagi dengan sepeda nya. “mau berangkat ya?” Tanya Reska dari seberang rumah nya. “iya” jawab ku sedikit dengan senyum di pagi ini. “semangat ya!” Reska memberi senyum lebar dari bibirnya.
“Dyandra!!!” terdengar suara yang sudah tak asing lagi bagiku. *pukk* Ratna menepuk pundak ku dengan semangat. “apasih Na? sakit tahu!” jawabku ketus. “hehe maaf ya. Eh eh gimana kemarin sama Reska?” “apa? Gimana apanya?” “kalian ngobrolin apa aja?” Tanya Ratna penasaran. “gak gimana-gimana, Dia Cuma nanyain gua mau masuk universitas mana?.” “terus lo jawab apa?” “ya, gua jawab gak tahu. Lagian emang gua  masih bingung kok.” “udah? Cuma begitu aja?” “iyalah! Mau gimana lagi coba?” “eh iya dy, denger-denger Reska lagi deket sama cewek di sekolah ini.” “siapa? Gua? Hahaha” candaku pada Ratna. “bukan! Katanya sih Feby” “oh, gak kenal. Biarin ajadeh” jawab ku cuek “lo gak cemburu?” Ratna mengehentikan perjalanan ku. “emang Reska siapa gua sih? Buat apa juga gua cemburu” “iya juga sih. Tapi kan..” “minggir!” aku mendobrak tangan Ratna yang sempat menghentikan perjalanan ku menuju ke ruang kelas.
*teeeeenggg.. teeeengggg..* bunyi bel pulang sekolah berbunyi menandakan Aku harus segera pulang sebelum Aku bertemu dengan orang-orang aneh yang suka menjegat dan meminta uang kepada semua anak di sekolah ku. Baru Aku akan melewati pintu gerbang sekolah ku, Aku melihat Reska sedang berdiri di samping mobil mewah berwarna hitam, berplat nomor kota Metropolitan. Iya itu mobil kesayangan Reska yang selalu ada di bagasi rumah nya. Dia melambaikan tangannya ke arah ku. ah tidak! Bukan kepadaku. Tapi, Perempuan berambut pirang panjang yang di ikat sedikit di bagian belakang kepalanya, aku rasa itu Feby yang di bicarakan Ratna tadi pagi. Mereka telah berlalu dari hadapan ku. Akupun segera pulang tanpa Ratna.
***
“Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” jawab Ayah menghampiriku. “mau kemana, Yah?” Tanyaku penasaran sambil mencium tangannya. “Ayah mau ke luar kota 3 hari sama Mama”. “loh? Kok mendadak? Ada urusan apa?” “kerabat dekat mamah yang tinggal di palembang mau pergi haji, Ayah gak mungkin pulang-pergi, karena jauh banget.” “terus? Aku sendirian di rumah?” jawab ku agak sedikit kesal kepada Ayah. “suruh Ratna menginap di sini sampai Ayah pulang.” “gak bisa begitu, yah. Rumah Ratna gak berdekatan sama rumah kita!” “Ayah udah bilang sama Reska, untuk menemani kamu beberapa hari ini, biar kamu gak kesepian. Waktu Ayah keluar kota dulu juga Reska kan yang menemani kamu. Lagipula Reska itu sudah Ayah anggap seperti keluarga kok.” Aku meninggalkan Ayah masuk ke dalam kamar ku. Tidak seperti biasanya aku merasa tidak ingin di temani oleh Reska saat ini. Kenapa aku? Ada apa dengan ku saat ini? Aku selalu bertanya-tanya. Apa karena kejadian tadi di sekolah ya? Aku cemburu? Iya, itu hal yang wajar sih. Aku kan suka sama Reska.
***
Selama beberapa hari ini Reska selalu mengantar-jemput ku sekolah. Bukan Aku yang mau, tapi Reska selalu menawari ku berangkat bersamannya. Walaupun seringkali Aku bilang, Aku bisa berangkat sendiri. Tapi, Reska tetap saja memaksaku untuk pergi bersamanya.
Tiga hari setelah kepergian Ayah dan Mamah ke Palembang, seperti biasanya Reska mengantar-jemput ku sekolah. Tidak biasanya Reska menaruh mobilnya di seberang jalan sekolah yang lumayan agak jauh dari jarak pintu gerbang. Aku tak melihat Reska ada di depan mobil, yang biasanya Ia selalu menunggu ku di samping mobil kesayangannya itu. “Mungkin Reska ketiduran dalam mobil kali yah” fikir ku positif. Aku menyeberangi jalan dengan sangat hati-hati dan setelah Aku sampai ke ujung jalan tiba-tiba saja ada yang menarik tangan ku ke arah jalan raya.
***
Ku buka mata ku perlahan karena sedikit agak pusing, dan aku sekarang melihat Reska berada di sampingku. “Alhamdulillah” ucap Reska sambil menatap ku dengan penuh ketenangan. “aku kenapa Res?” Tanya ku bingung. “kamu tadi kecelakaan, maaf Aku tadi lagi beli minum sebentar. Makanya Aku gak nunggu kamu di samping mobil seperti biasanya” wajah Reska sekarang berganti menjadi wajah penyesalan. “ah yasudah, Aku gak apa-apa kok” Aku berusaha menenangkan Reska yang mungkin sangat khawatir dengan keadaanku. Ada sedikit keganjalan yang aku rasakan saat ini, aku merasa kaki ku mati rasa, ku goyangkan sedikit badanku untuk memastikan aku tidak apa-apa. “kamu kenapa Dy?” “kaki ku mati rasa Res” tidak seperti yang Aku bayangkan Reska tiba-tiba menangis di hadapanku dan terus meminta maaf. Aku sedikit penasaran dengan kaki ku, Aku buka perlahan selimut yang menutupi kaki ku, ku lihat Di sana kaki kanan ku baik-baik saja, bahkan aku lihat kaki kiri ku pun baik-baik saja. Ada apa dengan Reska? Kenapa dia menangis seperti itu? “Dy…” panggil Reska kepadaku dengan sedikit isakan. “iya Res? Kenapa?” “kamu lumpuh Dy, akibat kejadian tadi. Maafin aku Dy” aku terkejut dengan apa yang di bicarakan Reska barusan. Aku terdiam kaku, tubuhku seketika serasa hancur remuk. Mataku membulat melihat Reska, bulu kuduk ku meninggi tegak, sungguh aku tidak percaya dengan apa yang di katakan Reska. Aku mencoba berdiri, berjalan, tapi apadaya. Apa yang di katakana Reska semua benar. Aku lumpuh.
***
*2 tahun kemudian*
Aku selalu berada di dalam kamar kesayangan ku, ketika Aku bosan Aku hanya berada di teras kamarku. Terkadang kecelakaan 2 tahun lalu selalu terbayang di kepalaku, pernah sampai kepalaku pusing sekali ketika mengingat kejadian dua tahun lalu. Tapi untungnya selalu ada Reska yang setiap saat menjagaku.
“pagi Dyandra!!” “pagi Res, habis main sepeda ya?” “iya Dy, Cuma sebentar sih habisnya Ratna masih sibuk sama kuliahnya. Maklum anak Akuntan. Haha”
Ratna di terima di Sekolah Tinggi Administrasi Negara, dan Aku… dari dulu aku selalu ingin jadi atlet, dan akhirnya dengan keterbatasan ku, Aku diterima di salah satu Universitas Jakarta. Hari ini Aku sedang libur kuliah, ada penerimaan mahasiswa baru, dan aku tidak di izinkan ikut oleh Dokter.
“Res, aku bosan di rumah terus.” “oh iya! Tadi Ayah kamu ngajak jalan-jalan ke Puncak! Aku di suruh Ayah kamu bangunin kamu supaya siap-siap. Ayok Dy!” “Puncak?” jawabku heran “Iya Puncak. Kenapa? Udah sana cepat siap-siap!.”
“dingin ya disini, sejuk. Angin malamnya enak banget.” “kayak baru pertama kali aja kamu Dy ke Puncak.” “aku Cuma kangen aja sama suasana di sini.” “Aku juga kangen Dy sama suasana disini” wajah Reska tersenyum sambil tetap memegangi kursi rodaku.
“Dyandra.. Reska?!” sahut Ayah dari kejauhan. “Dyandra, Reska mari kita makan malam bersama. Jangan pandangi langit terus nanti ke-asyikan.” Aku dan Reska hanya tersenyum mendengar cakap Ayah yang sedikit jahil.
Setelah makan malam selesai Aku sedikit berbisik kepada Ayah bahwa Aku hanya ingin bicara banyak dengannya, dan Ayah mengajakku ke halaman belakang.
“Ada apa dengan anak Ayah ini?” Tanya Ayah sambil sedikit berjongkok di samping ku. “Ayah, kapan ya Dy bisa lari lagi? Kapan yah Dy bisa olahraga kayak orang normal biasanya? Kok kayaknya Dy lemah banget di banding temen-temen di Kampus Dy. Dy jalan pun gak bisa. Dy Cuma bisa duduk di kursi roda. Dy manja banget ya Ayah?” tanpa terasa kini air mata telah menghujani pipiku yang sedikit agak besar. “ini Dyandra bukan ya?” “Ayah aku lagi gak bercanda” “Kamu Dyandra anak Saya?” “Ayah apa-apaan sih! iya, ini Dyandra anak Ayah!” “kok anak Ayah cemen sekali ya? Kok anak Ayah lemah ya? Kok anak Ayah psimis seperti ini?” aku terdiam mendengar ucapan-ucapan yang di lontarkan Ayah. “Ayah, Dy lelah kalau harus seperti ini terus. Ayah kan tidak merasakan seperti Dy.” “Ayah mengerti. Makanya Dy harus rajin terapi. Jangan malas-malasan. Ngerti?” Aku mengangguk lalu Ayah membawaku ke dalam kamar untuk beristirahat.
***
2 tahun sudah Aku menjalankan terapi dan akhirnya Aku sembuh. Aku tidak tahu ini waktu yang sangat cepat atau tidak untuk penyakit ku ini. Aku tidak perduli! 2 tahun juga Aku tidak pernah berkomunikasi dengan Reska. Iya, saat kami pulang dari puncak aku baru tahu ternyata Reska sudah menjalankan hubungan special dengan Feby. Aku tidak pernah menjauh, tapi Reska yang selalu mencoba menjauh. Biarlah, Aku sudah tidak ingin memikirkannya.
Saat itu ada perlombaan lari yang di adakan oleh kampus ku. Aku bersiap disana. Ayah, Mama, dan sebagian keluargaku menyemangati ku dari atas. Aku tersenyum senang bisa seperti ini.
“1..2..3!! *duarrrrrr*” pistol telah ditembakan kerah atas dan Aku berlari sekuat tenaga ku. *brukk* “aahh” Aku sedikit berteriak karena ada yang menabrakku dari belakang. Aku mencoba berdiri kembali dan aku ingin tahu siapa yang menabrakku “Feby!!!” feby tersenyum sinis dan Aku terus berlari untuk kembali berada di posisi pertama. Dan…. “yeaaah!!” Aku menang! Aku sangat senang bisa membuktikan bahwa Aku adalah seorang atlet terbaik! Aku bisa! Ku peluk Orang tua ku, dan Aku lihat dari arah yang sangat jauh, ada yang melambaikan tangan ke arahku, dan ternyata itu Reska dan Ratna. Ahh sungguh aku merindukan mereka apalagi Ratna sahabat dekatku. “selamat ya Dy! Akhirnya tercapai juga cita-cita lo jadi atlet! Walaupun lu bantat! Hahaha” “aish! Baru juga ketemu lagi sudah meledek! Senang kan sahabatnya sukses? Haha” “selamat ya Dy” Reska mengarahkan tangan kanan nnya untuk symbol memberi selamat atas keberhasilan ku. “Terimakasih” aku memberikan sedikit senyum simpulku kepada Ratna dan Reska. “Dyandra?” “hm?” jawabku dengan sedikit meninggikan alis ku “I Love You, and…. Would You be my girlfriend?” Aku terkejut dengan apa yang di katakan reska kepadaku barusan. Aku menatap mata kedua orang tua ku dan Ratna. Mereka tidak memberikan respon apapun. Mengagguk pun tidak. “No.” aku hanya ingin aku bersahabat dengan Reska dan Ratna. Aku menyayangi mereka. Aku pernah menyukai Reska tapi itu dulu! Sejak SMA.
Ku lihat wajah satu persatu yang menjadi saksi ketika Reska menyatakan perasaannya kepada ku. Mereka sangat heran. Mereka menyangka aku akan menerima Reska. Reska tidak memberikan wajah Ia menyesal atau kecewa. “Aku yakin kamu sudah memikirkan itu matang-matang Dy” Reska memberikan senyumannya kepadaku sambil memberikan pelukan persahabatan kepadaku dan Ratna. “bahkan aku bisa selalu memeluk kalian seperti ini haha” celetuk Reska dengan sedikit rasa jahil. Kami tertawa bersama. Iya hari itu sungguh sangat menyenangkan bagiku. Aku tidak kehilangan seedikitpun moment berharga di situ. Aku tidak kehilangan keluargaku juga sahabatku. Dan Aku bisa menjadi atlet sungguhan. Bukan hanya mimpi atau angan-angan belaka saja yang aku impikan selama ini. So, You can, if you try!